Langsung ke konten utama
Jakarta, 17 Februari 2020

Sudah berapa lama otak ku tak ku paksa untuk menekan keyword pada telephone selular ini?
Rasanya jika blog ini buku sudah terlalu menumpuk debu pada covernya.
Izinkan aku untuk membuka cerita ini lagi.
Cerita ini berbeda dari yang pada biasanya.
:)

Malam semakin larut.
Tapi rindu tak juga larut.
Pikiran pun semakin kalut.
Ada rasa cemas yang beriringan dengan jiwa yang merontah ingin melepas.
Berkali-kali ku tanya pada siluet ku dimalam ini.
Dipantulkan lah seorang anak manusia yang hampir kehilangan arah.
Terlalu rapuh hatinya.
Terlalu sombong dirinya untuk selalu menampilkan kekuatannya, pada semua makhluk yang bernafas dimuka bumi ini.
Hati yang rapuh ia tutup dengan baik.
Dibalut dengan keceriaan yang siapa sangka bahwa ia benar-benar rapuh.

Ia belajar menjadi tuli, seolah tak ingin mendengar apa itu tentang rasa.
Ia juga hampir belajar buta, karena tidak berani untuk baca aksara.
Ia hanya sedang menikmati setiap detiknya bergandengan dengan siluetnya.
Tak pernah perdulu bagaimana nanti.
Karna ia telah lelah untuk mencari.

Rsz


Komentar